Re-Visiting The Brandals Album Pertama

The Brandals Album Pertama

Berawal dari IG Feed yang diposting @mblocspace kemarin, The Brandals sedianya bakal menggelar konser tunggal 26 Maret besok di M Bloc Live House.

Gak tanggung-tanggung, selama seminggu penuh publik bakal disuguhi rangkaian acara bertajuk The Brandals Week dari Senin 21 Maret sampai hari Sabtunya.

Yang bikin gue kayak kesentak, agenda hari Rabunya ternyata bakal diisi Pemutaran film “Marching Menuju Maut” karya Faezal Rizal, sebuah dokumenter yang merekam perjalanan band dari awal karir mereka di BB’s, hingga footage pensi bersejarah PL Fair sembilan belas tahun yang lalu.

@mblocspace

Lintasan waktu masa kini dan masa lalu lewat di kepala sambil mengingat-ingat salah satu footage di film dokumenter itu dimana perjumpaan pertama kali gue dengan The Brandals lebih menyerupai kecelakaan: karena terpaksa nganterin pacar nonton pensi PL Fair tahun 2003 silam di Stadion Lebakbulus dimana mereka tampil sangat chaos, epic dan memorable.

Pasalnya, itulah pertama kalinya yang gue saksikan dimana penonton satu stadion gagal menikmati musik yang sedang dimainkan dan mudah terbakar amarahnya.

Dugaan gue saat itu, selain penonton kurang bisa menerima musik orisinil The Brandals, juga aksi gimmick di atas panggung yang emang ngehe, mulai dari gestur yang ugal-ugalan pas mainin bas dan gitar, kalimat-kalimat provokatif yang diletupkan para personil di depan mic, dan sound kasar khas mereka yang nyolot banget di kuping :))))

Situasi jelas chaos! Penonton mulai membludak. Kata-kata tai, ngentot, band goblok dan sumpah serapah lain mulai membahana ditujukan ke atas panggung. Semua tegang, sementara The Brandals cuek aja melanjutkan repertoarnya dari debut album self titled mereka yang saat itu belum populer di kuping awam.

Semua penonton di front row kompak melemparkan lumpur dan koor teriakan ‘Turuuun.. Turuun!!’ setelah gagal memaksa The Brandals yang lagi asyik tampil habis sesi break magrib itu untuk menghentikan performnya. 

Tapi posisi gue dan pacar cukup menguntungkan, kami berada di back row tribun stadion, memungkinkan gue menyaksikan semua kejadian saat itu tanpa halangan. 

Alih-alih hanyut sama aksi massa yang kontra, gue justru sangat menikmatinya dan menemukan eureka karena kekonsistenan mereka bermusik lewat totalitas karakter berandalan yang menurut gue malah sesuai banget sama nama bandnya!

Sepulang dari konser pensi epic itu, gue seperti menemukan idola baru dan merasa sangat beruntung berada di momen yang memorable itu.

The Brandals – Live at Juice Mvrck ex-Plaza Jakarta. Foto: Kulturblender
The Brandals – Live at Juice Mvrck ex-Plaza Jakarta 2014. Foto: Kulturblender

Fast forward ke tahun-tahun sekarang, harus diakui The Brandals kini adalah nama unit independen asal Jakarta yang telah mahsyur. Produktivitasnya jelas ga usah diragukan lagi, bahkan produktivitas mereka ketika masa pandemi sampai bisa menggelar konser tunggal 26 Maret besok, tepat di saat covid-19 mulai melandai seperti sekarang.

Musikalitas mereka berkembang seiring rentetan diskografi yang selalu baru tiap tahun, menjadi salah satu pengisi acara paling dinanti di Synchronize Fest dan banyak konser lokal bergensi lainnya.

Tapi kali ini gue ga akan membicarakan bagaimana nafas panjang dan prediksi ke depan biduk musikalitas The Brandals bakal terus dipancangkan.

Secara khusus di tulisan ini, gue bakal fokus revisiting dan mengulik temuan-temuan gue dari energi album debut mereka yang 19 tahun silam pernah digagal-pahamkan oleh publik satu stadion.

Baca Juga:   Hari-Hari Terakhir Peterpan (Bagian 1)

Revisiting The Brandals

Dari segi packaging, sleeve album ini dirilis dengan key visual sampul dominasi warna coklat buluk bergambarkan tumpukan benda tak terpakai dan rongsokan yang menyerupai sampah.

Dilepas pertama kali tahun 2003 via Sirkus Record di bawah naungan PT Ritme Nuansa Baru (RNB), album ini berwujud dalam format kaset.

Yang ngeselin, sleeve design sampulnya horizontal, beda sama kebanyakan rilisan kaset yang umumnya design covernya vertikal. Kan ini bikin jadi ngga seragam pas didisplay sama koleksi kaset gue yang lain! Heuheu..

The Brandals Self Titled Front Cover
The Brandals Self Titled Back

Dibuka dengan nomor Marching Menuju Maut, perjalanan memasuki semesta musikal The Brandals disambut dengan nuansa garage dan rock and roll ala staccato yang putus-putus. 

Jejakkan kaki di tanah
Berbaris ke satu arah
Menuju dataran merah

Pantang mundur maju terus

Layaknya sebuah marching, sound kuno dari departemen ritem yang disajikan sejak awal makin kuat ditingkahi vokal yang lebih terasa seperti orasi daripada bernyanyi.

Menjelang penghabisan reffrain, vokal ditarik ke lengkingan tinggi dengan lirik yang makin absurd:

Oh mata buta
Telinga tak mendengar
Menunggu

Datangnya
Ajal

Marching Menuju Maut kemudian ditutup manis lewat koor yang buat gue terdengar otentik seperti permainan kata-kata yang belum pernah dilakukan band manapun saat itu:

Marching
Menuju
Maut
Marching
Menuju maut
Marching menuju maut

Lingkar Labirin didapuk jadi nomor runner up. Kali ini nuansa The Brandals sangat rockabilly, sebuah derivasi genre dari perpaduan rock and roll dan punk. Racikan yang juga dengan mudah bisa kita temui membalur di berbagai track selanjutnya seperti Hati Emosi, Stoned Travel, Vague n Hollow dan Anjing Urban (Sang Korban II).

Nomor favorit gue, 100 Km/ Jam jadi track dengan komposisi aransemen paling rumit sekaligus yang durasinya paling pendek di album ini. Mendekati masterpiece!

Pasalnya, cuma butuh waktu 3 menit kurang buat The Brandals untuk membawa pendengarnya seakan diajak ngebut dalam kecepatan 100 km/ jam. 

Dibaluri lirik lagu yang seturut tempo, vokal Eka juga terdengar lebih bernyanyi dengan progresi bar yang paling dinamis di antara track lainnya.

Wajar kalau 100 Km/ Jam adalah nomor hits yang tak hanya mudah jadi favorit, tapi juga merangkum estetika, kompleksitas dan kecepatan bermusik The Brandals di era-era awal ini.

The Brandals Formasi Awal
The Brandals formasi awal. Dari kiri ke kanan: Eka Annash (vokalis), Doddy (bass), Bayu (gitar), Tony (gitar), Rully (Drum). Dok The Brandals

Menolak Gagal Paham

Sejak penampilan memorable nya di Lebakbulus, gue mulai mempercayai kalau The Brandals hendak mengembalikan rock and roll ke keliaran dan keberandalan bermusik yang lama hilang sejak gelombang grunge yang murung nan marah mendominasi skena di seluruh dunia dan banalnya punk sejak Vivienne Westwood menjadikan Sex Pistols sebagai ikon baru komoditas fashion kaum elit.

Skena musik Jakarta saat itu juga tengah mengalami peralihan pasca redupnya Young Offender sebagai basis komunitas punk di Jakarta, tutupnya Poster Cafe dan tumbuhnya jalur Citos-Pondok Indah-Kemang sebagai rumah baru regenerasi musisi independen dan memuncak di album Kompilasi JKT:SKRG di bawah naungan Aksara.

Baca Juga:   Tujuh Favorit Live Cover/Remake Lagu-Lagu Taylor Swift

Tapi berbeda dengan lifestyle skena musik bar ala Jaksel saat itu yang imho lebih rich, sophisticated dan haus akan joissance, refleksi kenyataan yang direkam The Brandals di album debutnya ini buat gue pribadi lebih match dengan kehidupan yang gue kenal di kota kelahiran gue Jakarta Timur.

Pengalaman personal seperti mencium bau pasar dan bisingnya lalu lintas di Jatinegara, was-wasnya kalau lewat pas ada tawuran di bilangan Matraman, bandelnya puluhan pemuda tanggung yang trek-trekan motor ilegal di Jatiwaringin, dan romantisnya Kalimalang membuat gue lebih gampang masuk ke lirik yang ditulis Eka dan musik yang di-compose Tony. Bukan suatu kebetulan bahwa kedua aktor intelektual The Brandals ini juga tinggal di Duren Sawit dan Jatibening, Jakarta Timur.

Tema-tema di atas tadilah yang gue percaya melesap ke dalam lirik-lirik lagu di album ini.

Yang menarik, alih-alih menggunakan idiom-idom yang Jakarta banget dengan bahasa slang nya, Eka memilih jalan lain dalam penulisan lirik lagu, terutama berbahasa Indonesia dengan tetap patuh pada EYD.

Meski genre yang diusung bukanlah pop, komposisi garage rock, sedikit punk dan blues di tangan The Brandals bisa tetap enak sekaligus puitis tanpa perlu menjadi cengeng, seperti lirik Lingkar Labirin berikut:

Entah kapan akan berakhir
Bertukar warna di dalam gelap
Tak kutemukan juga ujungnya tabir
Berputar-putar
Dalam labirin panjang
Tanpa akhir

Di sisi lain, gue juga menangkap ada elan vital yang sama dengan prosa dan sajak-sajak ala Chairil Anwar: kalimatnya ditulis pendek-pendek, tanpa tedeng aling-aling, mendobrak kesopanan berbahasa ala pejabat Orba dan Balai Pustaka namun tetap kontemplatif seperti lirik Stagnansi vs Konformis berikut:

(Ke mana kaki kulangkahkan?)
Jauhi terik mentari

(Ke mana kaki kulangkahkan?)
Bisingnya deru sang waktu

(Ke mana kaki kulangkahkan?)
Sengitnya bau badanku

(Ke mana kaki kulangkahkan?)
Nikotin ke paru-paru

Secangkir kopi
tanpa gula gelap pekat
Ayo lari cepat
seminggu terus terlambat

Oh masuk kantor
siap jadi penjilat
Ulangi lagi sampai hati ini berkarat

Penutup

Gue punya obsesi tersendiri dengan album debut sebuah band. Menurut hemat gue, inilah masa-masa dimana produksi album dijalankan dengan pengalaman recording yang minim dari para personilnya, totalitas fokus dan kerap digarap spontan, serta materi-materi yang dibuat secara organik tanpa rencana jangka panjang.

Debut self titled The Brandals bisa ditempatkan dalam konteks yang sama: ia mengejutkan, meledak-ledak dengan spontan, dan tanpa perlu hidden agenda.

Buat gue ini menjadi kekuatan debut album The Brandals, ia berbeda dengan banyak rilisan band seangkatannya dalam menangkap gejala-gejala kehidupan kaum urban perkotaan tanpa perlu dibebani wajib politically corret, harus punya agenda tertentu dan embel-embel lain yang kerap mendistraksi gue dari apa dan bagaimana roots musikalitas The Brandals ditonggakkan pada masanya.

Ya tapi ini kan perspektif gue pribadi, gue yakin pembaca yang timeline hidupnya bersinggungan dengan album ini pasti punya experience-nya masing-masing.

Kalau lo sendiri gimana, punya opini lain atau pengalaman soal ini? Kirim di kolom komentar ya.

The Brandals Album Pertama

Leave a comment

Your email address will not be published.