Kami Hidup di Sepanjang Sungai Kalimalang (Fragmen 1)

Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang. Sebuah tempat di mana setiap hati saling bertaut dan rekaan surga telah berhenti sampai di sini. Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang karena kaki menuntun langkah ini untuk tak usah kemana-mana lagi.

Saat itu, hari masih sore saat seorang nenek tua sedang menyapu halaman rumahnya yang masih tanah. Gugur dedaunan dari pohon yang meranggas di depan rumahnya mulai terkumpul di satu titik untuk kemudian segera dibakar.

Nenek itu tinggal sendiri di sebuah rumah besar yang sudah dibangun sejak ia masih kecil. Almarhum ayahnya sendirilah yang mewariskan rumah itu dalam surat wasiat yang sampai sekarang masih tersimpan rapi bersama dokumen penting lainnya.

Tapi rumah di pinggiran Sungai Kalimalang itu tak seramai dulu lagi. Anaknya satu-persatu meninggalkan rumah, berkeluarga entah di mana dan mempunyai beberapa orang anak yang bahkan ia sendiri belum pernah melihatnya.

Tak tahukah mereka bahwa seorang cucu adalah salah satu syarat yang dapat menyempurnakan wujud setiap manusia berusia lanjut –seperti halnya ia sekarang? Mungkin suatu hari nanti ia akan pindah dari situ, dari rumah di pinggir sungai itu. Percakapan indah itu pun terjadi perlahan-lahan.

“Nenek sedang apa?” Suara seorang anak kecil tetangganya membuyarkan lamunan.

“Eh, Andin. Ini nenek lagi nyapu,” jawabnya singkat.

“Nyapu apa, Nek?”

“Nyapuin daun-daun tua.”

“Kenapa daun-daun tua disapu, Nek?” Si kecil lalu jongkok tak jauh dari tumpukan daun yang disapu Nenek.

“Karena daun-daun tua ini jatuh dari pohonnya, dan hanya akan mengotori halaman kalau tidak dibersihkan.”

Baca Juga:   Habis

“Oo.. Jadi disapu biar bersih ya, Nek?!”

“Iya. Daun yang sudah tua akan rontok dari pohon, jatuh ke tanah, dan tidak berguna lagi. Nanti akan dibakar saja.”

“Nek, Ndin mau bantuin Nenek, nyapuin daun-daun tua. Boleh?”

“Boleh saja. Tapi nggak usah. Ini khan udah kerjaan nenek saban sore. Ndin main aja lagi sama Tiwul, sama Malik, dan sama temen-temen Ndin lainnya.”

“Enggak ah. Ndin mau disini aja dulu. Ndin mau temenin nenek.”

Tanpa disuruh, anak kecil itu langsung saja duduk di beranda depan rumah itu. Api pelan-pelan mulai membakar tumpukan daun, melahirkan asap putih yang sesak–membumbung naik kemudian hilang dimakan langit sore. Sambil berdiri, nenek cuma bisa diam menyaksikan peristiwa yang ia ciptakan sendiri barusan. Apakah daun-daun tua itu pernah mengira sebelumnya bahwa suatu hari wujudnya akan musnah.

“Dan asap itu pun akan segera terlupakan,” bisik nenek pelan. Si kecil tak mendengar karena bola mata bulatnya memperhatikan permandangan sederhana ini dengan takjub.

Sekejap saja, Nenek teringat pada anak-anaknya. Ia rindu akan suaminya yang mungkin saat ini sudah hidup bahagia di Kerajaan Surga. Rasa kesepian kini semakin kuat menyergapnya. Jangan-jangan ia telah disia-siakan.

“Nek!” anak kecil itu memanggilnya lagi. “Nanti kalo Ndin udah gede, Ndin juga mau nyapu halaman biar bersih. Ndin mau bantuin nenek! Malah kalo bisa, nanti kalo Ndin udah gede trus jadi nenek-nenek juga, Ndin mau menyapu sungai, biar semua orang yang hidup di sepanjang sungai Kalimalang jadi bahagia karena sungainya juga makin bersih. Gitu ya, Nek?”

Baca Juga:   Coda

Nenek masih diam. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus diucapkan. Tapi kali ini ia tidak mau lagi menyia-nyiakan kesempatan. Diciumnya lembut kening anak itu. Dipeluknya erat sosok kecil yang ada di depannya tersebut.

Menyapu sungai? Ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya menyapu sungai. Tapi ia mengerti maksudnya.

Betapa besar semangat, keinginan, dan cita-cita anak ini. Meskipun terhadap sesuatu yang mustahil dilakukan. Ia merasa menemukan kembali apa yang selama ini hilang. Perasaannya kini jadi lebih baikan dan ia merasa cukup bahagia sekarang.

Terkadang kata-kata dari seorang anak kecil bisa lebih bijak dari orang dewasa sekalipun. Dan meski anak ini bukan cucu kandungnya, tapi ia bersyukur bisa memiliki seorang Andin. Ia adalah seorang nenek yang sempurna sekarang. Ia juga memutuskan untuk tidak akan pindah kemana-mana hingga akhir hayatnya nanti.

Andin–yang kemudian beranjak dewasa, menikah dan punya 2 orang anak–tinggal di rumah besar milik nenek samping sungai Kalimalang. Hingga saat ini, sehabis ia menyapu pekarangan rumah ditemani anak-anaknya, ia selalu sesekali menyempatkan diri menebar kembang melati ke atas nisan nenek sebatang kara yang ada di dekat pohon besar depan rumah; nisan yang di pesan agar menghadap ke arah sungai Kalimalang.

Leave a comment

Your email address will not be published.