Hari Ini Adalah Hari Yang Baik Untuk Mati

“Aku tidak perlu menghancurkan sebuah kota, aku hanya perlu membebaskan pikiranku –dari ideologi yang paling sempurna”

***

Sebenarnya Kawan, saya pun masih menanyakan hal itu sampai sekarang; bagaimana akhir dalam kehidupan saya nanti? Tentu kalau boleh memilih, saya ingin meninggal dengan cara yang halus dan tenang.

Saya dapat membayangkan saat itu adalah bagian akhir sekaligus penutup yang indah atas seumur hidup saya dilahirkan. Saya mungkin akan memilih hari Jumat pagi, satu hari yang hangat di mana kicauan burung dandang menyanyikan requiem keikhlasan lewat perasaan hati yang lengkap. Sebuah Jumat pagi yang agung layaknya suatu hari besar keagamaan dirayakan. Sebuah hari yang baik untuk mati.

Tapi tunggu dulu, ada baiknya tak lupa saya coba mengingat-ingat bagaimana awal dari kehidupan (baca: kelahiran) saya dahulu. Sebab akhir pasti punya awal, bukan?! Seperti isi yang berasal dari kosong. Dan apakah kamu juga begitu? Mm..maksud saya, apa kamu juga masih ingat pada detik-detik awal kamu dilahirkan? Saat kita –dan mereka sekalian– membuka kelopak mata untuk pertama kalinya di dunia, masih ingatkah?

Saya sendiri tak ingat jelas apa yang pertama kali saya lihat dan lakukan saat itu. Saya (kembali) hanya mampu membayangkan prosesnya secara datar saja: yakni ada sebuah ruangan putih; kamar rumah sakit yang bau obat; sentuhan tangan-tangan ahli bersalin yang cekatan; kemudian pecah tangis bayi dari mulut ini; hingga jatuh ke pelukan seorang perempuan muda yang menatap lelah lewat naluri keibuan. “Akhirnya, setelah 9 bulan,” begitu mungkin pikirnya.

Kehidupan pun terulang. Seorang bayi telah lahir, menggantikan seorang kakek atau nenek lainnya yang semakin menua dan segera mati. Suatu pola yang sama dengan alur kisah berbeda. Karena itu pulalah saya mengangguk-angguk saat kamu menguraikan keduanya berada dalam gerak sirkular, seakan tanpa henti untuk berputar. Seperti Desember yang sebentar lagi Januari, atau Minggu yang akan kembali Senin. Tentu dalam konteks di sini, waktu menjadi dasar ukuran.

Namun kawan, segera setelah saya temui bahwa hidup bukanlah pembagian awal dan akhir, kepala saya mendadak pusing seperti diserang migran. Lalu saya coba fokuskan pikiran dan berkonsentrasi lagi dengan tenang.

Pada hitungan waktu (jam) yang berputar selama 1 hari, pukul 24.00 adalah pukul 00.00 itu sendiri. Tergantung dari sudut mana kita memandang, waktu yang sebenarnya satu tersebut dibagi dalam dua nama: tengah malam dan dini hari. Awal yang tak lain adalah akhir itu sendiri.

Secara otomatis, dasar ukuran di sini bisa digugurkan. Nilai waktu pun nihil adanya. Penamaan hari mulai Senin hingga Minggu adalah usaha kreatif manusia melabelkan pergerakan yang sesungguhnya tak pernah ada. Masa lalu yang tak pernah berlalu. Masa depan seakan cuma khayalan. Sebab yang ternyata paling nyata dalam hidup ini adalah apa yang saat ini terjadi. Bukan masa lalu atau masa depan, tapi masa sekarang.

Baca Juga:   Fragmen Kota, Mimpi, dan Kematian

Kalau sudah begitu, maka gerak sirkular yang telah kita sepakati tadi sesungguhnya hanya fantasi. Sebab kehidupan ini ternyata berjalan di tempat, ia tidak berputar atau maju ke depan. Saya pun semakin khawatir, jangan-jangan kau benar, Kawan. Dan jangan-jangan bulatan bumi ini tersaji berkat bantuan fantasi dan khayalan.

Fantasi Ideologi

Belum lama ini datang seorang teman yang curhat kepada saya. Dia mengaku sedang bingung memahami aliran ‘kanan’ dan aliran ‘kiri’ sebagai bentuk ideologi. Apa perbedaan mendasar dari kedua pemikiran ini? Siapa-siapa saja aktor intelektual yang terlibat di dalamnya?

Saya hanya diam saja saat teman tadi memberondongkan pertanyaan tersebut. Bukannya bengong atau tidak mendengarkan, saya terdiam karena pertanyaan tersebut membawa ingatan ini kepada salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan cerpen Saksi Mata. Berikut ini adalah nukilannya:

“Perlawanan..” katanya berapi-api, “..Ideologi kami adalah perlawanan. Kami tidak peduli kalah dan menang, kami hanya melawan dan melawan.”

“Ya, Tapi…”

(Klandestin: Kumcer ‘Saksi Mata’ hal.98)

Dari nukilan fiksi di atas bisa dilihat, SGA memadankan kata ‘ideologi’ dengan bentuk ‘perlawanan’ yang tanpa syarat. Perlawanan yang menjalankan tugasnya dengan –tak bisa lain– hanya melawan. Tapi kita pun telah sama tahu, bentuk ‘lawan’ di sini selalu membutuhkan ‘musuh’ sebagai oposisi binernya. Seperti hitam dengan putih. Langit dengan bumi. Yang mungkin dan yang mustahil. Awal dan akhir. Seperti juga ideologi kanan yang berseberangan dengan ideologi kiri.

Kemudian SGA mengungkapkan ketidakpeduliannya akan hasil akhir dari perlawanan itu, menang atau kalah tidak lagi menjadi soal. Sebab yang terpenting di sini adalah bagaimana ‘perlawanan’ (baca: ideologi) itu bisa berperan. Maka dengan mengingat kekhawatiran saya sebelumnya di esai ini, bolehlah saya berkesimpulan bahwa sejatinya, dikotomi adalah sebuah ruang metafor yang tidak bisa sembarangan saja digunakan.

Dan karena tak ingin sembarangan saja menjawab, saya memilih untuk beranjak pergi dan meninggalkan teman tadi yang masih terombang-ambing ke kanan ke kiri. Sambil menyulut sebatang kretek, saya hendak mencari posisi nyaman di depan teras yang menghadap ke alam.

Saya mencoba menangkap sebentuk garis cakrawala, sebuah garis horizontal yang memisahkan langit dengan bumi. Konyol memang, karena garis itu tak pernah benar-benar ada. Manusia hanya menamainya karena langit dan bumi mesti dipisahkan. Padahal langit, bumi, dan garis cakrawala berasal dari satu bulatan yang sama. Seperti halnya hitam, putih, dan abu-abu dalam keluarga warna.

Baca Juga:   Habis

Hidup Hingga Akhir Zaman

Untuk menciptakan iklim dunia yang lebih bermanusiawi, tampaknya kita tak perlu mempertajam perbedaan dengan pisau murahan. Sebab yang terpenting di sini adalah bagaimana masing-masing kita bisa berperan. Bahkan kalau perlu, kita tak usah lagi mengingat masa lalu atau mengharapkan masa depan. Yang menurut saya mesti kita lakukan adalah menjalani kehidupan mulai sekarang, dan semakin menyadari bahwa hidup adalah masa kini yang terus diulang.

Dan tahukah kamu, kawan? Kita tak perlu menunggu sampai jadi sepasang kakek nenek untuk bisa berdampingan. Kita ini memang sudah terjebak dalam KEABADIAN untuk bisa saling melengkapi lewat perannya masing-masing. Tak peduli siapa yang minor dan siapa yang dominan, tak jadi soal apakah kita bersahabat atau berseberangan. Kalaupun suatu saat nanti kita tak lagi berdampingan seperti ini, kamu jangan khawatir.

Saya yakin sekali bahwa keabadian ini adalah ketidakabadian yang muncul bergiliran. Maka di sini pula saya hendak mengajak kamu, anda, kita, dan mereka sekalian untuk hidup berdampingan dan berani berkawan dengan realita, kenyataan, fantasi, dan khayalan.

Mari bersama kita pilih satu hari yang kita suka, siapkan diri di depan kertas dan meja. Lalu ambil handgun M-16 mu itu dari dalam laci. Pastikan selongsongnya terisi, sambil menguatkan konsentrasi untuk menarik pelatuknya. Jangan ragu-ragu. Tarik nafas panjangmu dan lepaskan.. semua batasan yang menghalang. Pikiranmu itu harus segera dibebaskan, sebab konon musuh terbesar kita adalah pikiran kita sendiri.

Ayo, arahkan senjata itu ke kepalamu. Tepat di tengah dahi, tempat di mana ‘mata ketiga’ manusia bersembunyi. Tarik perlahan, dan tembak sekarang.

DOORRR!!!

Apa yang terjadi? Peluru sudah dilepaskan seiring terdengar bunyi tembakan. Kamu pun mulai sadar, ternyata kamu masih hidup. Hahaha, tentu saja. Kematianmu hari ini adalah awal kehidupan yang mesti kau mulai sekarang juga.

Akhir kata, rasanya tak perlu menunggu waktu untuk bisa hidup seribu tahun lagi. Sebab kita akan hidup hingga akhir zaman jika kita sudah sungguh-sungguh hidup hari ini mulai sekarang. Nah, kan.

Leave a comment

Your email address will not be published.